Breaking News

Friday, July 8, 2016

Makalah Krokot dan Lidah Buaya

Gulma Krokot (Portulaca oleracea L) dan Perdu Basah Lidah Buaya (Aloe vera L), Sumber Makanan Murah dan Bergizi di Masa Mendatang I. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) sebagai sumber pangan alternatif masyarakat yang bernilai gizi tinggi. Dan untuk mengetahui tingkat penerimaan masyarakat terhadap pangan dari olahan tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) . II. PENDAHULUAN 2.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak di benua Asia yang sangat kaya dengan berbagai spesies flora. Menurut Angga Permana (2008), dari 40 ribu jenis yang flora tumbuh di dunia, 30 ribu di antaranya tumbuh di Indonesia. Sekitar 26% telah dibudidayakan dan sisanya sekitar 74% masih tumbuhan liar di hutan-hutan. Dari flora yang telah dibudidayakan, lebih dari 940 jenis digunakan sebagai obat tradisional dan dapat dikonsumsi, di antaranya adalah krokot dan lidah buaya. Menurut Jayanti Indah Lestari, dkk (2015), Krokot (Portulaca oleracea L.) adalah tanaman liar yang dapat tumbuh dimana-mana, tidak hanya di persawahan yang subur tapi juga di daerah yang tanahnya tandus. Bahkan krokot dapat hidup di sela-sela trotoar di pinggir jalan, Krokot (Portulaca oleracea L.) tumbuh liar ditempat-tempat terbuka yang terkena sinar matahari. Tanaman ini diperkirakan berasal dari daratan Amerika tropis di Brazil yang dapat tumbuh dari dataran rendah sampai ketinggian 1.800 m dpl. Menurut tanobat.com (2014), ciri-ciri tanaman krokot (Portulaca oleracea L.) antara lain, batang krokot berbentuk bulat yang tumbuh tegak atau sebagian atau seluruhnya terletak di atas tanah tanpa mengeluarkan akar dan berwana cokelat keunguan dengan panjang 10-50 cm, Batang lembut memiliki rasa sedikit asam, dan asin. Tangkainya pendek berbentuk bulat telur sungsang. Pangkal batangnya membagi dengan tepi rata, panjangnya 1-4 cm dan lebar 5-14 mm. Daun krokot berwarna hijau dengan warna batang kemerahan, warna permukaan atas daun hijau tua, permukaan bawahnya merah tua. Daunnya tunggal, tebal berdaging, datar dan letaknya berhadapan atau tersebar. Bunganya berkelompok 2-6 buah yang keluar dari ujung percabangan. Mahkota daunnya berjumlah lima buah, berwarna kuning dan kecil-kecil. Buahnya berbentuk kotak, bijinya banyak dengan warna hitam cokelat mengkilap. Tanaman ini dapat diperbanyak dengan biji. Menurut referensisehat.com (2015), daun krokot segar mengandung asam lemak omega-3 (a-linolenic acid) yang lebih tinggi dibandingkan tanaman sayuran berdaun lainnya. Dari setiap 100 gram daun krokot segar memiliki kandungan sekitar 350 mg asam lemak omega-3. Berdasarkan hasil penelitian, disebutkan bahwa dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak omega-3 dapat mencegah serta menurunkan penyakit yang terkait dengan penyakit jantung seperti jantung koroner dan stroke. Tidak hanya itu, lemak omega-3 juga dapat mencegah terjadinya autisme serta penyakit lainnya pada anak anak. Menurut referensisehat.com (2015) Selain mengandung asam lemak omega-3, sayuran daun krokot juga memiliki kandungan vitamin A yang sangat tinggi. Dari setiap 100 gram sayuran krokot, kita dapat memperoleh sekitar 44% dari total kebutuhan vitamin A dalam sehari. Vitamin A merupakan nutrisi yang bertindak sebagai antioksidan alami yang dapat menangkal bahaya radikal bebas yang dapat menyebabkan kanker. Tidak hanya itu, adanya kandungan vitamin A juga sangat bermanfaat dalam menjaga kesehatan kulit serta menjaga kesehatan mata dan paru paru. Selain itu, menurut tanobat.com (2014), tanaman krokot memiliki kandungan kimia antara lain KCl, KSO4, KNO3, nicotinic acid, tanin, saponin, vitamin B, C, l-noradrenalin, noradrenalin, dopamin,dopa. Krokot (Portulaca oleracea L.) juga merupakan sumber beberapa vitamin B kompleks seperti riboflavin, niacin, pyridoxine dan karotenoid, serta mineral diet (besi, magnesium, kalsium, kalium, dan mangan). Selain tanaman krokot (Portulaca oleracea L.), terdapat tanaman yang terkenal saat ini yang dapat dijadikan obat tradisional, yaitu lidah buaya. Menurut Suprianto (2015), lidah buaya (Aloe vera L.) adalah sejenis tumbuhan yang sudah dikenal sejak ribuan tahun silam dan digunakan sebagai penyubur rambut, penyembuh luka, dan untuk perawatan kulit. Tumbuhan ini dapat ditemukan dengan mudah di kawasan kering di Afrika. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan tanaman lidah buaya berkembang menjadi bahan baku industri farmasi da­n kosmetika, serta bahan makanan dan minuman kesehatan. Secara umum, lidah buaya (Aloe vera L.) merupakan satu dari 10 jenis terlaris di dunia yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman obat dan bahan baku industry. Menurut Tirta Yoga (2015), lidah buaya (Aloe vera L.) merupakan tanaman perdu yang basah. Bagian batangnya bengkok cenderung berbaring dengan ukuran sebesar jempol manusia dewasa. Adapun bagian daunnya bergerigi dan mampu mencapai panjang 15 cm. Bagian dalam daun lidah buaya ini dipenuhi getah dan daging berlendir tanpa warna. Teksturnya kenyal dan cenderung tebal mudah hancur. Sementara itu, bagian bunga lidah buaya memiliki bentuk seperti terompet atau bertabung. Ukurannya berkisar di angka 2 sampai 3 cm. Warna bunga lidah buaya ini kuning cenderung oranye. Ia tampak bersusun dan berjungkai mengelilingi bagian tangkai yang sedikit menjulang. Terakhir, bagian akar lidah buaya yang berserabut dang sangat pendek. Panjangnya hanya berkisar di angka 30 cm. Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) mengandung banyak zat dan vitamin yang berguna untuk manusia. Dengan kandungan protein yang tinggi, keduanya dapat diolah menjadi makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat umum. Di restoran tertentu sebenarnya krokot coba dijual sebagai makanan yang disebut salad, tapi itu hanya hanya dinikmati oleh orang tertentu saja. Lidah buaya pun ada yang sudah diolah sebagai manisan atau pun dicampurkan ke dalam minuman kemasan. Tanaman krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya mudah ditemukan ataupun dibudidayakan. Jika dahulu keduanya dikenal sebagai tanaman obat herbal ataupun untuk makanan ternak, ke depan kedua tanaman tersebut berpotensi dapat diolah menjadi makanan sebagai sumber pangan. Krokot (Portulaca oleracea L.) dapat diolah menjadi sayur atau lauk, lidah buaya (Aloe vera L.) yang biasa dijadikan obat peyubur rambut, penyembuh luka, dan perawatan untuk kulit juga dapat dijadikan permen, minuman atau dijadikan jus. Produk-produk olahan dari Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) perlu diuji tingkat penerimaan oleh masyarakat, untuk itu perlu uji organoleptic. Menurut tekpan.unimus.ac.id, pengujian organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada proses pengindraan. Pengindraan diartikan sebagai suatu proses fisio-psikologis, yaitu kesadaran atau pengenalan alat indra akan sifat-sifat benda karena adanya rangsangan yang diterima alat indra yang berasal dari benda tersebut. Jenis penilaian atau pengukuran yang lain adalah pengukuran atau penilaian suatu dengan menggunakan alat ukur dan disebut penilaian atau pengukuran instrumental atau pengukuran obyektif. Terkait hal tersebut, peneliti tertarik melakukan uji organoleptic terhadap olahan tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) berupa sayur urap krokot dan botok / tum krokot. Adapun olahan dalam bentuk minuman yang diuji dengan uji organoleptic adalah jus campuran Krokot dan lidah buaya (Aloe vera L.) dengan menambahkan sedikit perasan jeruk nipis. Minuman itu disebut Liko Juice with lemon (liko = lidah buaya dan krokot). 2.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang dapat dirumuskan adalah “Selama ini tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) lebih banyak dimanfaatkan sebagai makanan Jangkrik dan di beberapa daerah digunakan sebagai sumber bahan obat. Adapun tanaman lidah buaya (Aloe vera L.) selama ini lebih banyak digunakan sebagai bahan obat dan bahan kecantikan. Padahal tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) mengandung nilai gizi yang tinggi yaitu karbohidrat tanaman krokot sebesar 3,8 gr dan energi sebesar 21 kkal utk 100 gr tanaman krokot dan karbohidrat tanaman lidah buaya sebesar 0,4 gr dan energi sebesar 4 kkal utk 100 gr tanaman lidah buaya Hanya saja belum banyak yang memanfaatkan tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) sebagai sumber pangan.” Berdasarkan hal tersebut maka muncul pertanyaan penelitian sebagai berikut: 2.2.1. Dapatkah tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) sebagai sumber pangan alternatif masyarakat yang bernilai gizi tinggi? 2.2.2. Bagaimanakah tingkat penerimaan masyarakat terhadap pangan dari olahan tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.)? 2.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 2.3.1. Untuk mengetahui potensi tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) sebagai sumber pangan alternatif masyarakat yang bernilai gizi tinggi. 2.3.2. Untuk mengetahui tingkat penerimaan masyarakat terhadap pangan dari olahan tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) . 2.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 2.4.1. Masyarkat dapat memanfaatkan tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) sebagai sumber pangan alternatif yang memiliki nilai gizi. 2.4.2. Meningkatkan nilai guna dan nilai ekonomis tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.). 2.5 Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian ini sebatas menguji potensi tanaman Krokot (Portulaca oleracea L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.) sebagai sumber pangan alternative dan menguji tingkat penerimaan masyarakat terhadap olahan pangan (urap krokot, botok/tum krokot dan Liko Juice with lemon) dari kedua tanaman tersebut.

No comments:

Website Gak Jelas